Saturday, June 21, 2014

Model Penelitian Spiral

Spiral model adalah salah satu bentuk evolusi yang menggunakan metode iterasi natural yang dimiliki oleh model prototyping dan digabungkan dengan aspek sistimatis yang dikembangkan dengan model waterfall. Tahap desain umumnya digunakan pada model Waterfall, sedangkan tahap prototyping adalah suatu model dimana software dibuat prototype (incomplete model), “blue-print”-nya, atau contohnya dan ditunjukkan ke user / customer untuk mendapatkan feedback-nya. Jika prototype-nya sudah sesuai dengan keinginan user customer, maka proses SE dilanjutkan dengan membuat produk sesungguhnya dengan menambah dan memperbaiki kekurangan dari prototype tadi.

Berikut adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam spiral model:
  1. Customer communication. Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif antara developer dengan user / customer terutama mengenai kebutuhan dari customer.
  2. Planning. Aktivitas perencanaan ini dibutuhkan untuk menentukan sumberdaya, perkiraan waktu pengerjaan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan software.
  3. Analysis risk. Aktivitas analisis resiko ini dijalankan untuk menganalisis baik resiko secara teknikal maupun secara manajerial. Tahap inilah yang mungkin tidak ada pada model proses yang juga menggunakan metode iterasi, tetapi hanya dilakukan pada spiral model.
  4. Engineering. Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun 1 atau lebih representasi dari aplikasi secara teknikal.
  5. Construction & Release. Aktivitas yang dibutuhkan untuk develop software, testing, instalasi dan penyediaan user / costumer support seperti training penggunaan software serta dokumentasi seperti buku manual penggunaan software.
  6. Customer evaluation. Aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan feedback dari user / customer berdasarkan evaluasi mereka selama representasi software pada tahap engineering maupun pada implementasi selama instalasi software pada tahap construction and release.


Kelebihan model Spiral :

  1. Dapat disesuaikan agar perangkat lunak bisa dipakai selama hidup perangkat lunak komputer.
  2. Lebih cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak skala besar.
  3. Pengembang dan pemakai dapat lebih mudah memahami dan bereaksi terhadap resiko setiap tingkat evolusi karena perangkat lunak terus bekerja selama proses .
  4. Menggunakan prototipe sebagai mekanisme pengurangan resiko dan pada setiap keadaan di dalam evolusi produk.
  5. Tetap mengikuti langkah-langkah dalam siklus kehidupan klasik dan memasukkannya ke dalam kerangka kerja iteratif .
  6. Membutuhkan pertimbangan langsung terhadp resiko teknis sehingga mengurangi resiko sebelum menjadi permaslahan yang serius.
Kelemahan model Spiral :
  1. Sulit untuk menyakinkan pelanggan bahwa pendekatan evolusioner ini bisa dikontrol.
  2. Memerlukan penaksiran resiko yang masuk akal dan akan menjadi masalah yang serius jika resiko mayor tidak ditemukan dan diatur.
  3. Butuh waktu lama untuk menerapkan paradigma ini menuju kepastian yang absolut



Referensi :


Metode Penulisan Daftar Pustaka berdasarkan standar IEEE

Kata referensi berasal dari inggris reference dan merupakan kata kerja to refer yang artinya menunjukan kepada. Dalam sebuah karya ilmiah, penulis akan membutuhkan sumber-sumber literatur yang akan dijadikan referensi. Setiap kutipan yang berasal dari karya atau tulisan orang lain, harus dicantumkan referensi yang digunakan sehingga tidak disebut sebagai plagiat. Pada begian terakhir karya ilmiah harus dicantumkan seluruh daftar pustaka sumber yang digunakan sebagai referensi.Terdapat beberapa standar yang biasa digunakan dalam penulisan daftar pustaka. Salah satu standar yang umum digunakan adalah standar IEEE. 

Berikut ini bentuk penulisan daftar pustaka berdasarkan standar IEEE :
Referensi berupa buku
[1] S. M. Hemmingsen, Soft Science. Saskatoon, Canada: University of Saskatchewan Press, 1997.
[2] A. Rezi and M. Allam, “Techniques in array processing by means of transformations,” in Control and Dynamic Systems, vol. 69, Multidimensional Systems, C. T. Leondes, Ed. San Diego, CA: Academic Press, 1995, pp. 133-180. 
contoh untuk sebuah edisi
 [3] J. A. Prufrock, Ed., Lasers, 2nd ed. New York, NY: McGraw-Hill, 2004.
 contoh untuk sebuah chapter 
 
Referensi dari Periodical
Untuk pengiriman artikel yang belum diterima untuk publikasi, menggunakan frase "dikirimkan untuk publikasi" di tempat tanggal. Jika telah diterima, namun belum dipublikasikan, menggunakan "yang akan diterbitkan" di tempat tanggal. Perhatikan bahwa jumlah periodical adalah opsional ketika bulan publikasi diberikan. 
[4] G. Liu, “TDM and TWDM de Bruijn nets and shufflenets for optical communications,”  IEEE Transactions on Computers, vol. 46, no. 1, pp. 695-701, June 1997. 
[5] J. R. Beveridge and E. M. Riseman, “How easy is matching 2D line models using local search?” IEEE Transactions on Pattern Analysis and Machine Intelligence, vol. 19, no. 2, pp. 564-579, June 1997. 
[6] B. McGursky, “An approach to three-dimensional robotic walking,” IEEE Robotics Automation Magazine, submitted for publication.  

Referensi dari artikel  proses konferensi yang dipublikasikan
Kata "di" sebelum judul konferensi tidak dicetak miring.
[7] N. Osifchin and G. Vau, “Power considerations for the modernization of telecommunications in Central and Eastern European and former Soviet Union (CEE/FSU) countries,” in Second International Telecommunications Energy Special Conference, 1997, pp. 9-16. 
[8] S. Al Kuran, “The prospects for GaAs MESFET technology in dc–ac voltage conversion,” in Proceedings of the Fourth Annual Portable Design Conference, 1997, pp. 137-142.  

Referensi dari paper yang dipresentasikan di konferensi tetapi tidak dipublikasikan
[9] H. A. Nimr, “Defuzzification of the outputs of fuzzy controllers,” presented at 5th International Conference on Fuzzy Systems, Cairo, Egypt, 1996. 

Referensi dari report (laporan)
Berikan nomor laporan atau bulan jika ada. 
[10] K. E. Elliott and C. M. Greene, “A local adaptive protocol,” Argonne National Laboratory, Argonne, IL, Tech. Rep. 916-1010-BB, 1997. 

Referensi dari TESIS dan DISERTASI
"Ph.D. disertasi, "tetapi" M.S. tesis. "
[11] H. Zhang, “Delay-insensitive networks,” M.S. thesis, University of Illinois at Urbana-Champaign, Urbana, IL, 1997. 
 
Referensi dari manual
[12] Bell Telephone Laboratories Technical Staff, Transmission System for Communications, Bell Telephone Laboratories, 1995. 
[13] Motorola Semiconductor Data Manual, Motorola Semiconductor Products, Inc., Phoenix, AZ, 2007. 
 
Referensi dari bahan kursus 
[14] M. Hasegawa-Johnson, “Pattern classification,” class notes for ECE 544, Department of Electrical and Computer Engineering, University of Illinois at Urbana-Champaign, Aug.23, 2007.  —contoh dari sebuah handout (judul treat sebagai artikel, berikan tanggal spesifik) 
[15] J.-M. Jin, Electromagnetic Field Theory. Class notes for ECE 544, Department of Electrical and Computer Engineering, University of Illinois at Urbana-Champaign, 2008.
—contoh dari sebuah paket/buku (judul treat sebagai buku) 

Referensi dari sumber yang tidak dipublikasikan 
[16] T. I. Wein, private communication, Sept. 2005.
[17] G. Kinneavy, “An approach to graphs of linear forms,” unpublished. 

Referensi dari katalog
[18] Catalog No. MWM-1, Microwave Components, M. W. Microwave Corp., Brooklyn, NY. 

Referensi dari hak cipta / paten
[19] K. Kimura and A. Lipeles, “Fuzzy controller component,” U. S. Patent 14,860,040, December 14, 1996. 

Referensi dari standar
[20] IEEE Criteria for Class IE Electric Systems, IEEE Standard 308, 1969. 

Referensi dari sumber online
[21] R. J. Vidmar. (1992, Aug.). On the use of atmospheric plasmas as electromagnetic reflectors. IEEE Trans. Plasma Sci. [Online]. 21(3), pp. 876-880. Available: http://www.halcyon.com/pub/journals/21ps03-vidmar 
 —contoh dari artikel jurnal 
[22] PROCESS Corp., MA. Intranets: Internet technologies deployed behind the firewall for corporate productivity. Presented at INET96 Annual Meeting. [Online]. Available: http://home.process.com/Intranets/wp2.htp
 —contoh dari presentasi konferensi 
[23] S. L. Talleen. (1996, Apr.). The Intranet Architecture: Managing information in the new paradigm. Amdahl Corp., CA. [Online]. Available: http://www.amdahl.com/doc/products/bsg/intra/infra/html
 —contoh dari sebuah laporan
 

Referensi :
http://www.ieee.org/publications_standards/publications/authors/. 


Wednesday, June 18, 2014

Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara atau prosedur yang dipergunakan untuk melakukan penelitian sehingga mampu menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian. Salah satu metode pengembangan sistem informasi yang sering digunakan adalah System Development Life Cycle (SDLC).

Terdapat beberapa model yang ada pada SDLC, yaitu :
1. Waterfall (air terjun)
2. Increment Prototype
4. Rapid Application Development
5. Prototyping Model


Model Waterfall
Waterfall, merupakan SDLC tertua karena sifatnya yang natural. Urutan SDLC waterfall ini bersifat serial dari proses perencanaan, analisa, desain, dan implementasi pada sistem. Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan urut mulai dari level kebutuhan sistem lalu menuju ke tahap analisis, desain, coding, testing / verification, dan maintenance. Disebut dengan waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu selesainya tahap sebelumnya dan berjalan berurutan.
Kekurangan Metode Waterfall :

  1. Persyaratan system harus digambarkan dengan jelas.
  2. Rincian proses harus benar-benar jelas dan tidak boleh berubah-ubah.
  3. Sulit untuk mengadaptasi jika terjadi perubahan spesifikasi pada suatu tahapan pengembangan
Kelebihan Metode Waterfall : 
  1. Merupakan model pengembangan paling handal dan paling lama digunakan.
  2. Cocok untuk system software berskala besar.
  3. Cocok untuk system software yang bersifat generic.
  4. Pengerjaan project system akan terjadwal dengan baik dan mudah dikontrol.

Model prototyping
Prototype merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem. Prototyping, dimulai dengan pengumpulan kebutuhan, mendefinisikan objektif keseluruhan dari software, mengidentifikasikan segala kebutuhan, kemudian dilakukan “perangcangan kilat” yang difokuskan pada penyajian aspek yang diperlukan.
Kelebihan :
  1. Prototype melibatkan user dalam analisa dan desain.
  2. Punya kemampuan menangkap requirement secara konkret daripada secara abstrak.
  3. Untuk digunakan secara standalone.
  4. Digunakan untuk memperluas SDLC.
  5. Mempersingkat waktu pengembangan Sistem Informasi
Kekurangan :
  1. Proses analisis dan perancangan terlalu singkat.
  2. Mengesampingkan alternatif pemecahan masalah.
  3. Bisanya kurang fleksible dalam mengahdapi perubahan.
  4. Protitype yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah
  5. Protype terlalu cepat selesai

Rapid Application Development (RAD)
Rapid Application Development (RAD) adalah model dengan kegiatan dimulai pemodelan bisnis, pemodelan data, pemodelan proses, pembangkitan aplikasi dan pengujian.

Keuntungan RAD :
  1. Tampilan yang lebih standar dan nyaman.
  2. Mempercepat waktu pengembangan sistem secara keseluruhan karena cenderung mengabaikan kualitas.
  3. Mampu meminimalkan kesalahan-kesalahan dengan menggunakan alat-alat bantuan (CASE tools).
  4. Keterlibatan user semakin meningkat karena merupakan bagian dari tim secara keseluruhan.
  5. Bisa mengurangi penulisan kode yang kompleks karena menggunakan wizard.
  6. Ketelitian menjadi berkurang karena tidak menggunakan metode yang formal dalam melakukan pengkodean.
  7. Kurang efisien karena apabila melakukan pengkodean dengan menggunakan tangan bisa lebih efisien.
  8. Kesulitan melakukan pengukuran mengenai kemajuan proses.
  9. Membutuhkan biaya tersendiri untuk membeli peralatan-peralatan penunjang seperti misalnya software dan hardware.
  10. Dengan melakukan pembelian belum tentu bisa menghemat biaya dibanding-kan dengan mengembangkan sendiri.

Kerugian RAD :
  1. Fasilitas yang tidak perlu terkadang harus disertakan, karena menggunakan komponen yang sudah jadi, sehingga hal ini membuat biaya semakin meningkat.
  2. Sistem sulit diaplikasikan di tempat yang lain.
  3. Fasilitas-fasilitas banyak yang dikurangi karena terbatasnya waktu yang tersedia.
  4. Lebih banyak terjadi kesalahan apabila hanya mengutamakan kecepatan diban-dingkan dengan biaya dan kualitas.
Increment Prototype
Model incremental menggabungkan elemen-elemen model sekuensial linier (diimplementasikan secara berulang) dengan filosofi prototype interatif. Model ini memakai urutan-urutan linier di dalam model yang membingungkan, seiring dengan laju waktu kalender. Setiap urutan linier menghasilkan pertambahan perangkat lunak yang kemudian dapat disampaikan kepada pengguna.


Kelebihan Penggunaan Incremental Model :
  1. Merupakan model dengan manajemen yang sederhana.
  2. Pelanggan tidak perlu menunggu sampai seluruh system dikirim untuk mengambil keuntungan dari system tersebut. Inkremen yang pertama sudah memenuhi persyaratan mereka yang paling kritis, sehingga perangkat lunak dapat segera digunakan.
  3. Pelanggan dapat memakai inkremen yang pertama sebagai bentuk prototype dan mendapatkan pengalaman yang dapat menginformasikan persyaratan untuk inkremen system berikutnya.
  4. Resiko untuk kegagalan proyek secara keseluruhan lebih rendah. Walaupun masalah dapat ditemukan pada beberapa inkremen, bias saja beberapa inkremen diserahkan dengan sukses kepada pelanggan.
  5. Karena layanan dengan prioritas tertinggi diserahkan pertama dan inkremen berikutnya diintegrasikan dengannya, sangatlah penting bahwa layanan system yang paling penting mengalami pengujian yang paling ketat. Ini berarti bahwa pelanggan akan memiliki kemungkinan kecil untuk memenuhi kegagalan perangkat lunak pada inkremen system yang paling kecil.

Kekurangan Penggunaan Incremental Model :
  1. Inkremen harus relative lebih kecil (tidak lebih dari 20.000 baris kode) dan setiap inkremen harus menyediakan sebagian dari fungsional system
  2. Adanya kesulitan untuk memetakan persyaratan pelanggan pada inkremen dengan ukuran yang benar.



Referensi :



Penulisan Referensi

Referensi merupakan sumber data yang digunakan oleh penulis untuk membuat suatu karya tulis baik berupa gambar, rumusan, maupun informasi lainnya. Referensi harus ditulis ketika penulis mengutip data dari karya orang lain agar tidak dikategorikan sebagai plagiat.

Terdapat beberapa teknik penulisan referensi yang paling umum digunakan yaitu :
1. Author-Date system (Harvard system dan lain-lain).
2. Numerical system (Vancouver system dan lain-lain).

Sistem Author-Date 
Penulisan In-Text Referensi pada Sistem Author-Date
Pada saat penulisan referensi pada teks (in-text reference, pada umumnya pada bab tinjauan pustaka), maka hal-hal yang harus kita tuliskan antara lain : 
1. Nama pengarang atau editor atau organisasi, tetapi bukan nama inisial dan tanpa gelar.
2. Tahun publikasi.
3. Halaman dimana informasi itu berada (jika memungkinkan dan terdapat nomor halaman). 

Sebagai contoh :
Ketinggian ombak pada suatu daerah sangat ditentukan oleh jenis sedimen pada daerah tersebut (Brotoseno, 2011).
Brotoseno (2011) menyatakan bahwa ketinggian ombak suatu daerah sangat ditentukan oleh jenis sedimen pada daerah tersebut. 
Penulisan juga dapat ditambah dengan informasi halaman (“p.”= page, “pp.”= page to page), sebagai contoh: 
McGiver (2010, p.19) menyatakan bahwa pencairan es di kutub seluas seratus ribu kilometer persegi akan mengakibatkan kenaikan suhu global sebesar dua derajat celcius.
Atau jika lebih dari satu halaman referensi
McGiver (2010, pp.19-23) menyatakan bahwa pencairan es di kutub seluas seratus ribu kilometer persegi akan mengakibatkan kenaikan suhu global sebesar dua derajat celcius. 
Apabila terdapat satu, atau dua pengarang atau editornya, maka kita menuliskan seluruh nama pengarang atau editornya, sebagai contoh :  
McGiver dan Philips (2010, p.19) menyatakan bahwa pencairan es di kutub seluas seratus ribukilometer persegi akan mengakibatkan kenaikan suhu global sebesar dua derajat celcius. 
Namun apabila terdapat lebih dari dua pengarang, maka cukup ditulis satu pengarang atau editornya saja (umumnya ketua tim) ditambah dengan “et al.” atau “dkk.”, sebagai contoh : 
Pencairan es di kutub seluas seratus ribu kilometer persegi akan mengakibatkan kenaikan suhu global sebesar dua derajat celcius (McGiver et al., 2010). 
Jika terdapat lebih dari satu sumber referensi data atau informasi yang kita gunakan, maka penulisan antar sumber referensi dipisahkan dengan tanda “;” sebagai contoh:
Pencairan es di kutub seluas seratus ribu kilometer persegi akan mengakibatkan kenaikan suhu global sebesar dua derajat celcius (McGiver et al., 2010 ; Brotoseno, 2011).  




Sumber :
http://www.polman-babel.ac.id/upload/files/TeknikPenulisanReferensiKaryaIlmiah.pdf 

Analisis Penelitian

Kata analysis berasal dari bahasa Greek (Yunani), terdiri dari kata “ana” dan “lysis“. Ana artinya atas (above), lysis artinya memecahkan atau menghancurkan. Secara difinitif ialah: ”Analysis is a process of resolving data into its constituent components to reveal its characteristic elements and structure” Ian Dey (1995: 30). Agar data bisa dianalisis maka data tersebut harus dipecah dahulu menjadi bagian-bagian kecil (menurut element atau struktur), kemudian menggabungkannya bersama untuk memperoleh pemahaman yang baru. Analisa data merupakan proses paling vital dalam sebuah penelitian. Hal ini berdasarkan argumentasi bahwa dalam analisa inilah data yang diperoleh peneliti bisa diterjemahkan menjadi hasil yang sesuai dengan kaidah ilmiah. Maka dari itu, perlu kerja keras, daya kreatifitas dan kemampuan intelektual yang tinggi agar mendapat hasil yang memuaskan. Analisis data berasal dari hasil pengumpulan data. Sebab data yang telah terkumpul, bila tidak dianalisis hanya menjadi barang yang tidak bermakna, tidak berarti, menjadi data yang mati, data yang tidak berbunyi. Oleh karena itu, analisis data di sini berfungsi untuk mamberi arti, makna dan nilai yang terkandung dalam data itu (M. Kasiram, 2006: 274).
Analisi data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verivikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai social, akademis dan ilmiah. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dan seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan.
Tujuan analisis data, antara lain sebagai berikut :
  1. Memaknai data yang telah diperoleh untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang telah diajukan.
  2. Memperlihatkan hubungan antara variable-variabel yang terdapat dalam penelitian
  3. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan dalam memperoleh data
  4. Memperoleh dasar-dasar untuk membuat kesimpulan.
Adapun bentuk-bentuk analisis data dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif dalam suatu penelitian dapat didekati dari dua sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif secara deskriptif, dan analisis kuantitatif secara inferensial. Masing-masing pendekatan ini melibatkan pemakaian dua jenis statistik yang berbeda. Yang pertama menggunakan statistik deskriptif dan yang kedua menggunakan stastistik inferensial. Kedua jenis statistik ini memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam hal teknik analisis maupun tujuan yang akan dihasilkannya dari analisisnya itu (lihat Sudijono:1987:4)
Analisis kuantitatif deskriptif
Mengenai data dengan statistik deskriptif peneliti perlu memperhatikan terlebih dahulu jenis datanya. Jika peneliti mempunyai data diskrit, penyajian data yang dapat dilakukan adalah mencari frekuensi mutlak, frekuensi relatif (mencari persentase), serta mencari ukuran tendensi sentralnya yaitu: mode, mediandan mean (lebih lanjut lihat Arikunto, 1993: 363). 
Analisis Kuantitatif Inferensial

Pemakaian analisis inferensial bertujuan untuk menghasilkan suatu temuan yang dapat digeneralisasikan  secara lebih luas ke dalam wilayah populasi. Di sini seorang peneliti akan selalu berhadapan dengan hipotesis nihil (Ho) sebagai dasar penelitiannya untuk diuji secara empirik dengan statistik inferensial. 
Analisa Kualitatif

Analisa Kualitatif artinya peneliti menganalisa dengan menggunakan kalimat-kalimat deskriptif dari data yang ada (bisa data kuantitatif maupun data kualitatif), seperti pengecekan data dan tabulasi, dalam hal ini sekedar membaca tabel-tabel, grafik-grafik atau angka-angka yang tersedia, kemudian melakukan uraian dan penafsiran.
Data kualitatif dapat dipilah menjadi tiga jenis (Patton, 1990):
  1. Hasil pengamatan: uraian rinci tentang situasi, kejadian, interaksi, dan tingkah laku yang diamati di lapangan.
  2. Hasil pembicaraan: kutipan langsung dari pernyataan orang-orang tentang pengalaman, sikap, keyakinan, dan pemikiran mereka dalam kesempatan wawancara mendalam
  3. Bahan tertulis: petikan atau keseluruhan dokumen, surat-menyurat, rekaman, dan kasus sejarah.
Terdapat perbedaan-perbedaan antara data kualitatif dan data kuantitatif (Sitorus, 1998):
  1. Data kualitatif adalah data mentah dari dunia empiris. Data kualitatif itu berujud uraian terinci, kutipan langsung, dan dokumentasi kasus. Data ini dikumpulkan sebagai suatu cerita terbuka (open-ended narrative) , tanpa mencoba mencocokkan suatu gejala dengan kategori baku yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana jawaban pertanyaan dalam kuesioner. 
  2. Data kualitatif adalah tangkapan atas perkataan subyek penelitian dalam bahasanya sendiri. Pengalaman orang diterangkan secara mendalam, menurut makna kehidupan, pengalaman, dan interaksi sosial dari subyek penelitian sendiri. Dengan demikian peneliti dapat memahami masyarakat menurut pengertian mereka sendiri. Hal ini berbeda dari penelitian kuantitatif, yang membakukan pengalaman responden ke dalam kategorikategori baku peneliti sendiri.
  3. Data kualitatif bersifat mendalam dan rinci, sehingga juga bersifat panjang-lebar. Akibatnya analisis data kualitatif bersifat spesifik, terutama untuk meringkas data dan menyatukannya dalam suatu alur analisis yang mudah dipahami pihak lain. Sifat data ini berbeda dari data kuantitatif yang relatif lebih sistematis, terbakukan, dan mudah disajikan dalam format ringkas.  





Sumber :
Sudijono, Anas, 1987, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers.
Arikunto, Suharsimi, 1993, Manajemen Penelitian,  Jakarta: Rineka Cipta.
Patton, MQ. 1990. Qualitative Evaluation Methods. SAGE. Beverly Hills.
Sitorus, MTF. 1998. Penelitian Kualitatif: Suatu Perkenalan. Dokis. Bogor.

Daftar Pustaka

Daftar pustaka merupakan suatu daftar buku-buku atau artikel yang digunakan sebagai acuan atau referensi dalam suatu penulisan karya ilmiah. Petunjuk penulisan daftar pustaka untuk tugas akhir  Politeknik Negeri Semarang mengikuti ketentuan berikut. Secara umum, urutan unsur bahan pada daftar pustaka adalah sebagai berikut:
  1. Buku  :  Nama. Tahun. Judul buku. Tempat: Penerbit. 
  2. Jurnal :  Nama. Tahun. “Judul Artikel”. Nama Jurnal. Volume. Nomor.
  3. Koran :  Nama. Tahun. “Judul Artikel”. Nama Koran. Tanggal. Halaman.
  4. Makalah :  Nama. Tahun. Judul Makalah. Makalah disampaikan dalam ...nama pelatihan/seminar. Tanggal . Kerja sama.
  5. Internet : Nama. Tahun. Judul Artikel. Website. Tanggal unduh.
  6. Terjemahan : Nama .Tahun. Judul Buku. Penerjemah. Tempat: Penerbit.
Pengetikan daftar pustaka dilakukan dengan cara berikut:
  1. Bahan pustaka yang dicantumkan dalam daftar pustaka hanya buku, artikel, makalah, laporan yang dirujuk (dikutip) dalam pembahasan tugas akhir. 
  2. Penulis yang sama dengan bahan pustaka berbeda, penyebutan nama penulis pada buku kedua cukup diganti dengan garis putus (----------). 
  3. Jarak antarbaris pada satu bahan pustaka satu spasi, sedangkan jarak antarbahan pustaka dua spasi. 

Berikut dikemukakan beberapa contoh penyajian daftar pustaka baik dari buku, majalah, koran, jurnal, dan internet. 
Bahan pustaka berupa buku 
Eneste, Panusuk. 2005. Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. (satu penulis) Kertonegoro, Bambang Djadmo dan Syamsul Arifin Siradz. 2006. Kamus Istilah Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (dua penulis) Adikususmo, Supardjo. 1994. Kurikulum untuk Abad ke-21: Kekentalan Penguasaan ilmu sebagai Referensi. Jakarta: PT Gramedia. (kumpulan artikel) Direktorat Jenderal Bina Marga, 1997. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota. Jakarta. (Buku ditulis lembaga) Undang-Undang No.20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. (Dokumen resmi Indonesia. Fessenden,R.J. dan J.S. Fessenden. 1999. Kimia Organik. Jilid 1. Terjemahan Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: Erlangga. (Terjemahan) 
Artikel dari jurnal, internet, koran, jurnal, atau majalah
Stanic, Milan P. 2003.  Traffic Control Linux QoS Control Tool. http://rns-nis.co.yu/mps/linux-tc.html,(12 Mei 2006). (Internet) Goro, Garup Lambang. 2008. ”Studi Analisis Stabilitas pada Lereng Galian dengan   Metode Elemen Hingga”. (Jurnal)Wahana Teknik Sipil. Volume 12, Nomor 3, Semarang. (artikel jurnal/majalah) Makhrus, Moh. 2008. ”Mendamba Taman Bacaan di Kendal”. Suara   Merdeka. 14 Juli. Hlm. L (Koran) Suara Merdeka. 2008. Penertiban Iklan Mobil. 14 Juli. Hlm. B.(Koran) 
Artikel dari makalah/tugas akhir/Laporan 
Lumintaintang, Yayah B. Mugnisjah. Teknis Penulisan Laporan Ilmiah. Makalah disampaikan dalam Penataran Penyuntingan Majalah Ilmiah. Yogyakarta, 9 – 12 Desember 1996.  Kerja sama antara PDII – LIPI, Menristek, Dikti, Ikapindo, dan UII. (Makalah) Yanuarto, Bayu. 2006. Modifikasi Unit Produksi Stadiumsebagai Upaya Penghemanatan Biaya Perawatan Pertamina Unit pengolahan IV Cilacap. Tugas akhiSemarang: Jurusan Teknik Mesin Polines. (Tugas akhir) 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan dan saran merupakan bagian terakhir dari sebuah karya ilmiah. Kesimpulan merupakan ringkasan dari seluruh isi pembahasan karya ilmiah. Saran merupakan hal-hal yang perlu disampaikan berdasarkan karya ilmiah yang telah dibuat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah di masa depan.
Hal-hal yang harus ada dalam kesimpulan dan saran :
  1. Isi dalam kesimpulan harus berupa analisis kajian pustaka dan juga merepresentasikan dari karya ilmiah yang dibuat. Dapat berupa kesimpulan dari pembahasan karya ilmiah.
  2. Kesimpulan dalam karya ilmiah dapat disusun berdasarkan gambaran singkat mengenai isi pembahasan karya ilmiah yang bersangkutan.
  3. Kesimpulan tidak boleh menyimpang dari pembahasan karya ilmiah yang bersangkutan.
  4. Isi dalam kesimpulan sebaiknya mengandung saran-saran yang ditujukan kepada pembaca.

Contoh penulisan :


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
  1. Sistem Informasi Simpan Pinjam pada KPRI Sejahtera dapat dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL. Sistem informasi ini berbentuk halaman web dan dapat dibuka dengan menggunakan web browser. Anggota dapat mengakses data transaksi pribadi menggunakan aplikasi android.
  2. Dengan menggunakan Sistem Informasi Simpan Pinjam pengolahan data simpan pinjam menjadi lebih mudah, pembuatan laporan lebih cepat dengan data akurat.
5.2 Saran
  1. Sistem informasi ini dapat dikembangkan dengan penambahan sistem informasi unit toko di masa yang akan datang.
  2. Penggunaan aplikasi android dapat ditingkatkan dengan menambah sistem scan QR Code untuk mempermudah sistem informasi unit toko dan dapat ditambah dengan sistem informasi stok barang dengan input menggunakan android.